Monday, March 21, 2011

puisi syahdu

selepas berakhir malam pertama
(sajak ni best sangat, tapi tak ingat siapa penulisnya....)


Tika sama-sama melangkah  pelantar pelamin
Erat genggam tanganmu meresap ke urat saraf
dan tulang temulang
Desah nafasmu adalah wangian keramat kamar pengantin
kirai rambutmu sutera timur tabir malam
penuh beerti
embun malam pun terbakar
oleh hangat cintamu mendebar

Seketika diri berada di ranjang khayal
Tatkala kau bisikan  'i love you forever honey.....'
bulan berwajah suram tatkala kau renung wajahku
Aku lah purnama empatbelas yang menyebar sekelian cahaya
Bintang-bintang merajuk panjang oleh kerlip matamu
(kau kata lebih tajam dari pedang yang menusuk tangkai jantungmu)
membunuh segala sinar di langit
segalanya adalah kasturi yang dikirim dari syurga
terpana kita dalam kenikmatan nyaman
belai dari bidadari


Namun jalan yang kita lalui tidak selamanya
beraspal
Kadang kita berlari diantara ranjau yang
merintang
atau sesekali kaki kita terpaksa memijak
kaca melukakan

genggaman tanganmu sering terlepas
ketika melintasi jalan-jalan
jari jemarimu tidak lagi bersentuh mengalir alur kasih
setiap kali kutunjukan bulan
engkau meminta sinarnya padam
seskali kuajak menghitung bintang
kau kata biarlah kerlipnya ditelan malam

aku semakin sepi sendirian
dalam desah yang bertukar menjadi bara
Rambutku pun bertukar menjadi jalur luka
kerlip matamu menjadi serpihan kaca

inikah hukum dan pesona hidup
atau cintmu semakin redup........

Monday, March 14, 2011

TITIK RINDU BUAT AYAH

senikata lagu ni memang sedap.....


TITIK RINDU BUAT AYAH

di matamu masih tersimpan
selangkah peristiwa
denturan dan hempasan terpahat
di keningmu....

kau nampak tua dan lelah
keringat meluncur deras
namun kau tetap tabah
nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang kian sarat
kau tetap bertahan.....

engkau lebih mengerti
hitam dan merah jalan ini
keriput tulang pipimu
gambaran perjuangan
bahumu yang dulu kekat
legam terbakar matahari
kini kurus da terbungkuk
namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gementar
kau tetap setia....

Ayah
dalam hening sepi kurindu
untuk menuai  padi milik kita
tapi kerinduan bukan hanya kerinduan
anakmu terkadang banyak
menanggung rindu....

sekadar renungan

hiduplah hari-harimu seperti engkau sedang mendaki gunung. Sekilas pandang ke puncak mengingati matlamatmu.  Tapi jangan lupa, perhatilah sekeliling dari segenap penjuru kerana sekitar inilah engkau dicurahkan dengan kencantikan kehidupan. Langkahlah perlahan-lahan sambil menikmati setiap detik yang berlalu dan kemudiannnya pemandangan dari kemuncak itu wajarlah menjadi akhir perjalanan yang lebih gemilang.